Bahas Tentang Rumah Kesehatan Bagi Difabel, Nabigh Diundang ke Sri Lanka

Jember, 18 Agustus 2016

Ketertarikan dan perhatian terhadap kalangan difabel membawa Nabigh Abdul Jabbar ke Sri Lanka. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember ini diundang untuk mempresentasikan karya tulis ilmiahnya dalam ajang 2nd International Conference on Public Health-2016 yang digelar oleh The International Institute of Knowlegde Management (TIIKM) tanggal 28 sampai dengan 30 Juli lalu, di Colombo, Sri Lanka. Nabigh, menjadi salah satu dari 172 presenter yang berasal dari sepuluh negara.

“Semuanya bermula dari tugas mata kuliah Reproduksi Kesehatan, saya melakukan observasi terhadap fasilitas rehabilitasi bagi kalangan difabel di Jember dan sekitarnya. Ternyata kebanyakan fasilitas rehabilitasi bagi difabel masih berkutat pada tugas  menampung dan memberi makan bagi difabel, belum menyentuh kebutuhan dasar kalangan difabel seperti memberikan bekal ketrampilan agar mampu hidup mandiri,” jelas Nabigh di sela-sela melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe (18/8).

Keprihatinan mengenai penanganan difabel dituangkan Nabigh dalam tulisan ilmiah berjudul House of Healthy : Actualization of Chilhood Disability for Brighter Future (For Treatment, Education & Rehabilitation). Nabigh menawarkan konsep Rumah Kesehatan bagi kalangan difabel, yang tidak sekedar menampung saja, namun juga memberikan layanan kesehatan, pendidikan sekaligus memberikan bekal ketrampilan dalam satu atap. “Dari data yang ada, terdapat 11.580.117 orang penyandang disabilitas di Indonesia, jika mereka diberdayakan maka akan menjadi potensi yang luar biasa,” ujar mahasiswa asal Sidoarjo ini.

Ide Nabigh disambut hangat oleh para hadirin, namun bukan tanpa masukan. Kritikan yang diterima antara lain mengenai besarnya biaya yang harus dianggarkan untuk mewujudkan rumah kesehatan tersebut. Menanggapi hal ini, Nabigh mengusulkan agar rumah kesehatan dibangun atas kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan donatur. “Nanti dalam kesehariannya, saya mengusulkan agar rumah kesehatan dijalankan oleh kalangan masyarakat sendiri dengan pengawasan dari pemerintah. Kemudian setiap rumah kesehatan diupayakan memiliki produk yang keuntungannya di kembalikan ke tiap rumah kesehatan,” tutur Nabigh.

Mengikuti konferensi internasional menjadi pengalaman tak terlupakan bagi mahasiswa FKM angkatan 2013 ini. Pasalnya Nabigh dapat berkumpul dan bertukar pengalaman dengan para pakar kesehatan masyarakat dari berbagai negara. Bahkan awalnya Nabigh sempat tidak percaya bakal berangkat ke Sri Lanka, mengingat ini kali pertama dia mengikuti konferensi internasional. “Sungguh pengalaman berharga bagi saya, apalagi tema konferensi kali ini adalah begaimana menjembatani jurang antara peneliti dan pengambil kebijakan di bidang kesehatan,” kata Nabigh lagi.

Tidak berhenti di sini saja, Nabigh kini tengah bersiap-siap untuk mengikuti konferensi ilmiah bertajuk The 3rd International Conference on Arts and Humanities 2016 yang akan diselenggarakan di Bali pada 22 dan 23 September nanti. “Kali ini saya akan mempresentasikan kajian akan tari karya saya dan kawan-kawan di FKM berjudul Senja Puspita. Tari ini menggambarkan bagaimana proses terjadinya penularan HIV/AIDS, sehingga bisa menjadi media sosialisasi bahaya HIV/AIDS,” pungkas Nabigh. (iim)

Leave us a Comment