Akuntan Jember Raya Bahas Akuntasi Hijau dan Forensik

Jember, 21 April 2016

Sebanyak 600 peserta yang terdiri dari dosen akuntansi, akuntan, guru mata pelajaran akuntansi, peneliti dan mahasiswa jurusan akuntansi, bertemu dalam rangka membahas Akuntansi Hijau dan Forensik di Jember, dalam hajatan Konferensi Regional Akuntansi (KRA) III Jember Raya. Pembukaan KRA III Jember Raya digelar di gedung Soetardjo kampus Tegalboto Universitas Jember (20/4). Menurut Ketua Panitia Kegiatan, Dr. Alwan Sri Kustono, SE., M.Si., Ak., CA, selama dua hari ke depan, para peserta juga akan melakukan diseminasi hasil penelitian masing-masing mengenai seputar perkembangan ilmu akuntansi.

Dalam laporannya, Alwan Sri Kustono mengungkapkan bahwa pemilihan tema mengenai Akuntansi Hijau dan Forensik didasarkan pada kenyataan bahwa lingkungan seharusnya tidak lagi dijadikan obyek ekploitasi, hanya diperas tanpa adanya upaya pelestarian yang berkelanjutan. “Kita harus mulai berfikir bagaimana agar lingkungan menjadi obyek yang perlu kita lestarikan bersama. Sehingga dalam pengelolaan dan perencanaan akuntansi, semua lembaga dan institusi, baik pemerintah ataupun swasta harus memperhatikan aspek kelestarian lingkungan,” ujar dosen akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Jember ini.

Pada acara yang bertema “Akuntansi Hijau dan Forensik Untuk Merespon Dinamika Perubahan Global”, Alwan juga menambahkan, akuntansi forensik juga diperlukan dalam upaya menyelamatkan alokasi anggaran pemerintah dari penyimpangan ataupun korupsi. “Akuntansi dalam hal ini adalah proses mencatat dan melaporkan semua kegiatan, kejadian ataupun aktivitas korporasi lainnya sehingga manakala ada penyimpangan akan dengan sangat mudah dilacak,” imbuhnya.

Sementara itu Bupati Jember yang juga hadir dalam acara itu mengatakan, diselenggarakannya KRA III di kota Jember diharapkan bisa membawa spirit dalam pengelolaan Akuntansi Hijau di kota Jember. “Saya berharap nantinya para akuntan, khususnya lulusan dari perguruan tinggi di Jember bisa menjadi pendamping desa, yang akan membantu desa dalam pengelolaan dan pemanfaatan dana kas desa, kalau sampai tidak mau saya laporkan pada rektornya,” ujar dr. Hj. Faida, MMR yang disambut tawa para hadirin. Faida berharap ke depan akan ada agenda-agenda serupa dengan konsep acara yang bisa bersinergi dalam memecahkan persoalan pengelolaan akuntasi pemerintah dan korporasi yang ada di Jember.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Jember menyampaikan, KRA III merupakan wujud sinergi Universitas Jember bersama perguruan tinggi lain dalam membahas perkembangan profesi akuntan di Indonesia. “Kegiatan kali ini unik karena melibatkan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Jember, Universitas Muhamadiyah Jember, serta STIE Mandala dan pemerintah Kabupaten Jember. bersama mengembangkan profesi Akuntansi di Indonesia,” ujar Moh. Hasan.

Menurut Rektor profesi akuntan adalah profesi yang sangat penting bagi keberlangsungan tata kelola pemerintahan yang baik. “Peran akuntan dalam penggunaan anggaran yang taat pada aturan dan asas kebermanafaatan sangat penting, saya merasakan manakala akutan tidak berperan maka kebijakan dan langkah yang diambil hanya berdasarkan feeling atau kira-kira saja dan ini adalah hal yang sangat salah. Maka dari itu profesi ini sangat besar perannya bagi kemakmuran bangsa,” pungkas rektor.

Pada hari pertama kongres dipusatkan di Universitas Jember dan STIE Mandala. Di kampus Tegalboto, digelar acara pemaparan makalah dan diskusi yang dilanjutkan dengan  pembukaan acara dengan menampilkan pembicara kunci dari BPK RI dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Sementara di kampus STIE Mandala menjadi lokasi upgrading bagi para guru akuntansi dan pertemuan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi se-Jember Raya. Untuk hari kedua, kongres dilanjutkan dengan pemaparan hasil penelitian peserta dan diskusi yang ditempatkan di kampus Universitas Muhammadiyah Jember, sekaligus ditutup secara resmi.

“Walaupun acara ini acara regional Jember Raya yang meliputi Probolinggo hingga Banyuwangi, namun ternyata peserta yang hadir dari seluruh pelosok nusantara. Banyak peserta dari luar Jember Raya yang menyatakan hadir seperti dari Surabaya hingga Jakarta. Bahkan kami menerima 363 artikel yang setelah diseleksi menghasilkan 172 artikel yang akan dibahas selama dua hari,” pungkas Agung Budi, Kertua Seksi Acara kegiatan. (mun).

Leave us a Comment