Profil Rinda Handayani, Mahasiswa Bidikmisi Sempat Ragu Meneruskan Kuliah, Akhirnya Lulus Dengan IPK Tertinggi

RindaHandayani-1-682×1024

Jember, 10 September 2018

Ungkapan berbahasa Arab man jadda wa jada yang berarti barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil, mungkin cocok dengan jalan hidup Rinda Handayani. Wisudawan peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi pada wisuda periode I tahun akademik 2018/2019 Universitas Jember (8/9). Awalnya Rinda sempat ragu untuk meneruskan kuliah di Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB), pasalnya Program Studi Ilmu Sejarah adalah pilihan ketiga saat Rinda mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2014 lalu. Tapi berkat dorongan dari para dosen, akhirnya Rinda mantap untuk menekuni Ilmu Sejarah. Bahkan Rinda membuktikan mampu berprestasi dengan menyelesaikan studi di Kampus Tegalboto dalam waktu tiga tahun, sepuluh bulan dan sepuluh hari dengan IPK 3,94 ! Hebatnya lagi Rinda adalah penerima beasiswa Bidikmisi.

“Awalnya saya ragu apakah bisa menjalani kuliah, sebab Ilmu Sejarah bukan pilihan pertama saya. Untungnya para dosen meyakinkan saya bahwa asal saya mau bersungguh-sungguh belajar, maka prestasi bakal diraih di manapun berada. Akhirnya dari yang semula ragu, saya jadi punya semangat untuk menjadi yang terbaik,” ujar Rinda memulai kisahnya di sela-sela upacara wisuda. Tekad tersebut diaplikasikan Rinda dengan tekun belajar, termasuk mulai gemar membaca mengingat banyak bahan kuliah di Program Ilmu Sejarah yang berupa data, naskah, dan buku. Tantangan berikutnya adalah bagaimana Rinda harus pintar-pintar mengatur beasiswa Bidikmisi yang diterimanya setiap bulan. “Pokoknya harus bisa dicukup-cukupkan untuk hidup sebulan, bahkan makan harus dihemat, sehari dua kali saja,” imbuh anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Ternyata Rinda berhasil melewati semua rintangan yang ada. Walau harus hidup hemat, Rinda tetap mampu berprestasi, terbukti IPK-nya selalu bagus di tiap semesternya. Di semester akhir, skripsi berjudul “Peranan Pers Harian Angkatan Bersenjata Pada Masa Orde Baru tahun 1965-1998” berhasil diselesaikannya. “Skripsi ini mengupas peranan Harian Angkatan Bersenjata sebagai salah satu media massa yang dimiliki oleh pemerintah Orde Baru saat itu. Untuk mencari data yang diperlukan, saya mencari data ke Perpustakaan Nasional dan lembaga-lembaga lainnya di Jakarta,” kata alumnus SMAN 1 Ngawi ini.

Hidup prihatin memang biasa dijalani oleh Rinda, sebab orangtuanya hanyalah buruh tani di Desa Kasreman, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi. Sehari-hari pasangan Kasiran dan Sunarti, mengolah lahan sawah milik keluarga seluas tidak lebih dari seperempat hektar, yang seringkali tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga.  Untuk itu mereka berdua menjadi buruh tani, menggarap lahan orang lain. “Sehari-harinya upah dari bekerja sebagai buruh tani antara tiga puluh ribu rupiah hingga lima puluh ribu rupiah, itu pun kalau ada yang sedang membutuhkan tenaga kami,” ujar Kasiran yang hari itu hadir bersama sang istri di Gedung Soetardjo, menyaksikan sang putri diwisuda.

“Rinda meniko tansah pengin mulyaaken asmanipun tiyang sepuh,” begitu kata Kasiran menjawab pertanyaan kami akan putrinya, dengan bahasa Indonesia campur bahasa Jawa. Kasiran menuturkan putrinya ini sejak duduk di bangku SD hingga SMA memang menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu, Rinda seringkali juga mencetak prestasi di sekolahnya. Oleh karena itu Kasiran dan istri sempat bingung saat Rinda berniat untuk meneruskan kuliah, sebab biaya menjadi penghalang. Untungnya pemerintah melalui Kemenristekdikti memiliki program beasiswa Bidikmisi, beasiswa bagi siswa berprestasi namun berasal dari keluarga kurang mampu agar tetap memiliki akses menempuh pendidikan tinggi. Dan Rinda salah satunya yang sudah membuktikan bagaimana beasiswa Bidikmisi mampu mewujudkan impiannya.

Sementara itu sang Ibu, Sunarti, mengingat bagaimana sang putri saat menempuh studi di Jember. Menurut Sunarti, putrinya ini memang memiliki semangat pantang menyerah jika sudah memiliki cita-cita, tidak heran jika Rinda ngotot terus kuliah walau banyak hambatan.  “Biasanya setiap kali pulang ke rumah saat liburan, kami membekali Rinda dengan beras lima kilogram hasil panen dari sawah keluarga, dan masakan yang bisa bertahan lama seperti sambel goreng teri atau bumbu pecel. Orang tua tidak bisa memberikan sangu duit yang banyak, tapi paling tidak bekal dari rumah bisa mengurangi pengeluaran sehari-harinya. Kami bangga pada Rinda,” tutur Sunarti yang menceritakan kisah ini sambil berlinang air mata.

Kini sebagian mimpi Rinda sudah tercapai, meraih gelar sarjana, membahagiakan orang tua  sekaligus membuktikan bahwa kondisi ekonomi yang kurang beruntung tidak lantas mematikan harapan untuk menempuh pendidikan di peguruan tinggi. “Saya ingin meneruskan kuliah hingga jenjang doktoral sebab saya ingin menjadi dosen. Pesan bagi kawan-kawan yang kebetulan berasal dari keluarga kurang mampu, jangan berhenti bermimpi, sebab yakinlah akan ada jalan keluar di setiap kesulitan. Dan yang penting selalu berdoa dan berusaha,” pungkas Rinda Handayani. (iim)